Museum Tsunami Aceh Menyimpan Kenangan Dan Tragedi

Oktober 6, 2020 By Baged

Museum Tsunami Aceh berisi kumpulan peringatan, monumen, serta pemerintah mendedikasikannya sebagai sarana mengenang para korban oleh keluarganya pasca tragedi bencana. Kita telah melampaui lebih dari 15 tahun sudah semenjak peristiwa mengerikan menimpa satu kota ikonik bergelar Serambi Mekkah, yaitu Aceh.

Pada saat kejadian 26 Desember 2004, sedang berlangsung sebuah gempa bumi maha dahsyat dengan kekuatan 9,3 skala richter begitu tinggi. Oleh sebab gempa tersebut, gelombangnya merangsang pembentukan tsunami pada pesisir pantai wilayah Nanggroe Aceh Darussalam juga sebagian besar Sumatera Utara.

Museum Tsunami Aceh Menyimpan Kenangan

Saking menakutkan serta memilukannya insiden kala itu, warga penduduk Aceh menjadi senantiasa paranoid setiap kali merasakan getaran pada permukaan bumi. Kengerian seputar kerusakan timbul akibat terpaan tsunami juga turut menghantui sebagian besar rakyat Indonesia karena khawatir bila sejarah terulang kembali.

Menurut catatan sejarah, gempa bumi bertransformasi menjadi tsunami di Aceh merupakan gempa paling kuat nomor dua dalam rekaman peradaban manusia. Ia adalah satu dari sepuluh besar bencana alam paling buruk dampaknya sepanjang perjalanan kehidupan umat manusia sehingga sulit untuk melupakannya.

Sebagai penguat pembuktian, kita dapat menelusuri rekam jejaknya pada search engine Google lalu mengetikkan negara mana saja terkena tsunami Aceh. Ketika klik enter, kalian akan langsung menemukan banyak nama misalnya seperti Malaysia, Myanmar, Sri Lanka, Thailand, hingga India.

Museum Tsunami Aceh Bentuk Penghormatan Terhadap Para Korban

Museum Tsunami Aceh bisa terbilang juga merupakan suatu bentuk penghormatan terhadap para korban mencapai 280 ribu jiwa mencakup 14 negara dan ini menjadi salah satu museum terseram di dunia. Terlalu banyak tangisan dari para keluarga yang kehilangan orang tercinta, termasuk habisnya semua harta perbendaharaan terkait peristiwa tersebut.

Museum Tsunami Aceh

Dalam rangka upaya memperingati peristiwa bencana internasional tersebut, maka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyetujui pendirian museum Tsunami Aceh pada 2009. Beliau seorang diri turun tangan langsung menandatangani peresmian beroperasinya bangunan megah, indah, cantik, namun menyakitkan serta mengiris luka dalam hati.

Lahan terpakai secara keseluruhan untuk membangun kawasan museum tersebut sekitaran dua ribu lima ratus meter persegi dengan konsep semegah mungkin. Perancang bangunan raksasa ini tidak lain ialah bapak Ridwan Kamil sang pemenang sayembara, beliau dulunya pernah mengurus Bandung sebagai walikota.

Penghormatan Terhadap Para Korban

Bangunan museum tsunami Aceh sejujurnya sangatlah indah menawan, tidak mengherankan pasalnya kita semua telah mengetahui kepiawaian Ridwan Kamil sebagai arsitek. Apabila terlihat dari sisi atas, museum akan berbentuk menyerupai gelombang tsunami, sementara dari samping ia laksana perahu besar bergeladak luas.

Jika anda hendak mengunjungi museum tsunami Aceh, aksesnya terbilang lancar dan terjangkau sehingga mudah menemukannya pada aplikasi peta Gmaps. Pasalnya, gedung cantik ini berdiri kokoh tepat di tengah Banda Aceh, yaitu pada Jalan Sultan Iskandar Muda, berdampingan bersama Lapangan Blang Padang.

Desain Interior Karya Ridwan Kamil Bagaikan Gedung Memorandum

Ketika memasuki area dalam gedung museum tsunami Aceh, kita menemukan ada total empat lantai bertumpuk serta sejumlah peninggalan terkait kronologi bencana. Seluruh benda koleksi museum setidaknya ada 55 barang dengan komposisi 22 unit alat peragaan, 26 foto, serta 7 miniatur.

Desain Interior Karya Ridwan Kamil

Desain interior karya Ridwan Kamil sangat memanjakan mata, ia menghiasi setiap inchi dinding berkelok dengan relief motif geometrik secara penuh. Lantai tempat kaki kita menapak pun bernilai seni tinggi, rancangannya bagaikan rumah adat tradisional kental sekali khas kota Banda Aceh.

Area paling depan menyambut para pengunjung bernama Ruang Renungan, di mana terdapat satu lorong tidak terlalu luas berikut pencahayaan redup. Ornamen sekitar semakin ikut mendramatisir suasana, tatkala telinga kita mendengarkan gemericik aliran air pada sisi lorong menyerupai gemuruh gelombang tsunami.

Mengakhiri Ruang Renungan, para pelayat segera masuk ke ruangan penuh kaca bertajuk Memorial Hill lengkap dengan keberadaan layar LED raksasa. LED tersebut berfungsi untuk menyediakan akses informasi lengkap terkait insiden bencana alam tsunami mahadahsyat Aceh 16 tahun yang lampau.

Selanjutnya kita akan mendapat suguhan epic dari ruangan The Light of God, di dalamnya bersemayam satu ruang bentuknya persis sumur tabung. Sumur itu merembeskan cahaya menuju langit – langit ruangan sehingga pengunjung dapat melihat kaligrafi bahasa Arab berlafazkan kata ALLAH.

Post your Comments