Museum Paris Tolak Pengunjung Karena Memamerkan Belahan Dada

Desember 2, 2020 By Baged

Museum Paris tolak pengunjung dengan alasan yang sensitif karena berkaitan dengan isu ketimpangan gender antara pria dan wanita. Hanya karena busananya mempertontonkan belahan dada, seorang wanita mendapat penolakan kunjungan oleh petugas museum Paris beberapa bulan lalu.

Musee d’Orsay merupakan satu nama besar yang mampu menarik wisatawan dari berbagai penjuru dunia jika berbicara tentang ranah seni. Museum tersebut begitu digandrungi oleh sejumlah seniman dari mancanegara karena koleksi miliknya beragam asal – usul kenegaraannya dan berusia ratusan tahun.

Museum Paris Tolak Pengunjung Karena Memamerkan Belahan Dada

Salah satu mahakarya yang tersimpan di sana adalah kumpulan lukisan manusia sedang bertelanjang bulat yang tersohor pada abad ke 19 asal Prancis. Menariknya, kepemilikan koleksi berharga mengenai ketelanjangan ini justru berbanding terbalik dengan toleransinya seperti dipraktekan dalam aksi beberapa petugas penjaga gerbang museum.

Jeanne adalah seorang mahasiswi jurusan sastra Prancis, berniat untuk mengunjungi Musee d’Orsay pada suatu siang yang cerah. Jeanne memutuskan untuk mengenakan pakaian andalannya berupa gaun warna – warni yang memiliki belahan dada terekspos sehingga memukau area sensitif tersebut bagi orang yang melihatnya.

Namun petugas museum memiliki sudut pandang berbeda, dan menganggap bahwa penampakan payudara Jeanne adalah ancaman bagi pengunjung lain. Sesampainya di muka gerbang, Jeanne langsung dihalau petugas dan tidak mendapatkan izin untuk masuk ke dalam kawasan museum sebagai seorang pengunjung.

Museum Paris Tolak Pengunjung Berbalut Isu Ketimpangan Gender

Staff yang bertugas memiliki anggapan bahwa museum Paris tolak pengunjung berpakaian seksi adalah sebuah keharusan dan tidak boleh ditawar. Mereka hanya akan mengizinkan Jeanne masuk apabila ia setuju untuk melapisi tubuhnya dengan pakaian tambahan seperti misalnya jaket ataupun sweater tebal.

Beberapa pengunjung lain yang menyaksikan insiden tersebut merasakan empati terhadap Jeanne dan memviralkannya di sosial media. Pihak pengelola pun menyampaikan permohonan maaf terbuka, persis seperti yang dilakukan oleh museum Yogyakarta atas keteledoran mereka membiarkan keberadaan patung lilin Adolf Hitler sebagai sebuah koleksi berharga.

Museum Paris Tolak Pengunjung Berbalut Isu Ketimpangan Gender

Jeanne cukup tersinggung dengan perlakuan karyawan museum Paris terhadapnya, termasuk bagaimana cara mereka menatapnya. Sebagai gambaran, satu dari sekumpulan petugas berulang kali menatap bagian payudara Jeanne tapi tidak menjelaskan secara detail bagian aturan apa yang dilanggar.

Sebagai seorang wanita independen, Jeanne sama sekali tidak menyangka bahwa belahan dadanya akan menjadi bahan keributan oleh orang lain. Ia berujar bahwasanya dirinya hanyalah seorang mahasiswi biasa pada umumnya yang kebetulan mencintai karya seni klasik sehingga sangat antusias ingin menghampiri Musee d’Orsay.

Saat itu, Jeanne pergi bersama seorang temannya yang juga mengenakan pakaian minim, hanya saja dalam bentuk sedikit berbeda. Jika jeanne mempertontonkan payudara, maka temannya mengekspos area pusar dan perut secara terbuka dan vulgar, namun petugas terlihat hanya risih dengan belahan dada semata.

Kisah Stereotip Mengenai Seksisme Yang Nyata Dalam Kehidupan Sehari – Hari

Kasus mengenai museum Paris tolak pengunjung berpakaian terbuka seperti Jeanne memancing perhatian dari kaum feminis yang menyukai bermain judi online di Situs IDN Poker Terpercaya. Jeanne merasa terluka dengan penolakan petugas museum, bahkan ia sempat melakukan penolakan atas himbauan untuk mengenakan jaket tambahan.

Sikapnya yang bersikeras bukannya tanpa alasan, melainkan sebagai sebuah bentuk perlawanan atas pemaksaan sudut pandang orang lain terhadapnya. Ia pun merasakan malu yang tak tertahankan karena seluruh petugas berulang kali menatap payudaranya dengan seksama tanpa berkedip dan memelototkan mata.

Kisah Stereotip Mengenai Seksisme Museum Paris Tolak Pengunjung

Lebih lanjut lagi, beberapa kali juga ia dapati para staff menggunjingkan payudaranya sembari menunjuk ke arah sana dan berbisik. Jeanne tersinggung karena staff museum hanya memandangnya sebagai sebuah objek seksual saja tanpa memikirkan perasaannya sebagai seorang manusia biasa.

Pihak museum akhirnya memutuskan untuk membuat pernyataan resmi mengenai permohonan maaf secara khusus terhadap Jeanne. Bukan hanya itu, Musee d’Orsay pun telah mengutus orang untuk menghubungi Jeanne dan menemuinya secara langsung untuk memohon maaf atas perlakuan para staff terhadapnya.

Jeanne dikabarkan telah menerima permohonan maaf dari museum tersebut, dan menganggap bahwa itu adalah tulus dari dalam hati. Meski ia masih kecewa dengan perlakuan diskriminasi gender, namun Jeanne mengaku telah jatuh cinta dengan seni sehingga berjanji akan kembali ke museum tersebut.

Post your Comments